Maret 16, 2017

MATCHA SEBAGAI BUDAYA POPULER DI INDONESIA



PENDAHULUAN
a.      Sejarah Matcha
Pada tahun 3000 SM sudah sejak lebih dari 5000 tahun lalu masyarakat China menikmati dan mengambil manfaat dari teh hijau. Saat itu masih merupakan teh hijau biasa yaitu teh yang dibuat dari daun teh dan diseduh menggunakan air panas. Kemudian pada masa Dinasti Tang (618-907 M) terciptalah asal mula varian teh hijau seperti yang dikenal oleh masyarakat luas sekarang—Matcha. Matcha adalah teh hijau yang dibuat dari daun teh jenis Tencha, daun tersebut dikeringkan lalu digiling dengan alat penggiling dari batu sampai berbentuk serbuk kemudian dinikmati dengan cara diseduh dengan air panas dan ditambahkan sedikit garam. Tujuan dibentuk serbuk adalah untuk memudahkan saat penyimpanan.

Perkembangannya pun berlanjut pada masa Dinasti Song (960-1279 M). Pada masa tersebut dipopulerkanlah cara menikmati teh hijau dengan cara disajikan pada mangkuk kecil (cawan) dan diaduk dengan pengaduk dari bambu. Kemudian pada tahun 1103 M, pendeta Buddha Zen membuat metode penyajian teh hijau sebagai upacara ritual.

b.      Perkembangan Matcha di Jepang
Perkembangan Matcha di Jepang dimulai pada tahun 1191 M, yakni ketika seorang pendeta Buddha Zen bernama Eisai datang dari China untuk menyebarkan ajaran Zen di Jepang. Eisai pun turut mengenalkan upacara ritual teh hijau—Sado kepada para pengikutnya di Jepang. Upacara Sado adalah upacara ritual penjamuan khusus bagi tamu kehormatan.  Dan lambat laun pada rentang waktu tahun 1300 – 1500, Matcha menjadi bagian dari budaya Elite di Jepang dikarenakan pada masa itu yang dapat menikmatinya hanyalah para tamu dari kalangan bangsawan, samurai dan orang penting lainnya.

Tidak diketahui secara pasti kapan matcha mulai digunakan sebagai campuran rasa pada
makanan di Jepang. Namun dalam catatan sejarah, pada masa Meiji (1868-1912) Mount
Fuji-shaped green tea ice (Uji Kintoki (治金時)) merupakan salah satu menu pada setiap pesta  makan malam di istana Kaisar Jepang. Meskipun begitu,  asal usul hidangan ini tidak
diketahui.

Sejak saat itu mulai bermunculan beragam kuliner dengan varian rasa Matcha, seperti pada mochi, es krim, kue-kue tradisonal Jepang dan beragam kuliner lainnya.  Hingga saat ini kuliner Matcha telah menjadi sebuah icon bagi Jepang di mata orang asing.

c.       Perkembangan Matcha di Indonesia
Berbagai kuliner dengan rasa matcha sedang menjadi tren di Indonesia. Mulai dari es krim, minuman, kue kering dan banyak lagi. Tren ini diperkirakan sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu, diiringi dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan internet. Karena itulah kebanyakan penyukanya adalah kalangan anak muda yang aktif bermain media sosial dan selalu update dengan hal-hal yang sedang menjadi mode saat ini. Pada umumnya masyarakat Indonesia hanya mengetahui teh hijau sebagai minuman.
Beberapa penjual kuliner khas Indonesia pun sudah memasukkan campuran bubuk matcha ke dalam masakannya agar menarik bagi para kaum muda. Misalnya martabak, kue cubit, kue balok, roti bakar, tempe, mie ayam dan nasi goreng. Namun, kebanyakan kuliner matcha  di Indonesia hanya memakai perisa green tea dan bukan menggunakan bubuk matcha asli, hal ini disebabkan oleh faktor harga pasaran makanan di Indonesia yang tidak bisa terlalu mahal. Sedangkan bubuk matcha asli memiliki harga tinggi.
Dengan semakin maraknya sistem belanja online, orang Indonesia sudah dapat dengan mudah membeli serbuk matcha dan mencampurnya sendiri. Selain itu produk cemilan dengan rasa Matcha pun sudah tersedia di minimarket dan supermarket lokal seperti Alfamart, Indomaret, Giant, Carrefour, sehingga orang Indonesia sudah tidak perlu lagi membelinya secara khusus di supermarket barang impor.
TEORI
a.       Definisi Budaya Populer
Untuk membahas pengertian “budaya populer” ada baiknya kita pahami dulu tentang kata “budaya”, dan selanjutnya tentang “pop”. Selanjutnya untuk mendefinisikan budaya pop kita perlu mengkombinasikan dua istilah yaitu ”budaya” dan ”populer”. Pertama, budaya dapat digunakan untuk mengacu pada suatu proses umumperkembangan intelektual, spiritual, dan estetis (Williams, 1983: 90). Kedua, budaya berarti “pandangan hidup tertentu dari masyarakat , periode, atau kelompok tertentu. Ketiga, Williams mengatakan bahwa budaya pun bisa merujuk pada ”karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistik. Penulis memakai definisi pertama Williams untuk budaya pop.

Sedangkan kata ”pop” diambil dari kata ”populer”. Terhadap istilah ini Williams memberikan empat makna yakni: (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (4) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri (Williams, 1983: 237). Kemudian untuk mendefinisikan budaya pop kita perlu mengkombinasikan dua istilah yaitu ”budaya” dan ”populer”.  

b.      Definisi Soft Power
Soft power adalah salah satu konsep yang diusung oleh Joseph S. Nye. Soft power adalahsebuah istilah yang mulai banyak digunakan untuk mengartikan atau menjelaskan sebuah proses relasi dan realisasi kekuasaan. Makna soft power sendiri dapat dilihat dari istilah ‘soft yang berarti ‘lunak’ atau ‘halus’ dan power ’, yakni suatu kemampuan untuk melakukan segala sesuatu dan mengontrol pihak lain, untuk membuatnya melakukan sesuatu yang belum tentu ingin mereka lakukan (an ability to do things and control others, to get others to do what they otherwise would not” ).  Sehingga, soft power dapat didefinisikan sebagai sebuah kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi perilaku negara lain dengan cara persuasif daripada dengan koersi atau maupun imbalan.

ANALISIS
A.    Analisis Kuliner Matcha di Jepang Menggunakan Konsep Williams
1.      Disukai Banyak Orang
Matcha merupakan salah satu dari tiga varian rasa tradisional di Jepang, selain Azuki dan Japan sweet potato. Pada sebuah survey di tahun 2013 yang diadakan oleh Asosiasi Pecinta Es Krim Jepang, rasa matcha menduduki peringkat ke dua sebagai Rasa Es Krim Favorit di Jepang. Survey tersebut diikuti oleh 4.928 pria dan wanita dari berbagai usia. Dari hasil tersebut pun terdapat rincian presentase usia penyuka rasa tersebut, hasilnya sebesar 50% penyuka rasa matcha berusia manula (60 tahun ke atas), lalu 40% berusia 30 tahun ke bawah dan sisanya adalah usia 40-50 tahun.
Selain pada survey rasa Es Krim, Matcha juga menduduki peringkat ke 8 pada survey Rasa Coklat Favorit di Jepang. Survey tersebut diadakan oleh website rankingshare.jp dan diikuti oleh 500 orang pemuda Jepang.

2.      Jenis Kerja Rendahan (Mudah Ditemukan)
Tentu saja sangat mudah menemukan berbagai  kuliner matcha di Jepang. Dari mulai es krim di kedai pinggir jalan, snack dengan varian rasa matcha di conbini, sampai Matcha Latte di kafe mahal. Selain itu, berbeda dengan varian rasa khas Jepang lainnya, kuliner Matcha dapat ditemukan sepanjang tahun di Jepang karena tidak memerlukan musim khusus.

3.      Dibuat Untuk Menyenangkan Orang Lain
Sudah sejak lama matcha diketahui memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Pendeta Buddha Zen menikmati matcha dengan tujuan menjaga dirinya tetap terjaga selama proses meditasi dan membersihkan diri dari zat-zat berbahaya dalam tubuh. Pada saat ini pun ada 3 manfaat matcha yang terkenal yakni sebagai penyemangat tubuh karena kandungan kaffeinnya yang tinggi namun tidak berbahaya seperti kopi, lalu sebagai pembakar lemak dalam tubuh dan sebagai anti oksidan.

Hal yang unik terjadi pada bulan Juli 2016, sebuah perusahaan pembuat teh hijau yang telah berdiri sejak 155 tahun lalu, Tsujiri Corp, mengadakan kampanye diskon harga es krim matcha  bagi para peserta pemilu Jepang. Kampanye tersebut diselenggarakan selama dua minggu untuk mendukung para pemuda usia 18-19 tahun yang baru pertama kali mengikuti pemilu. Tsujiri Corp. Memberikan potongan harga sebesar 100 yen untuk mereka yang menunjukan formulir tanda sudah mengikuti pemilu. Dan hal ini mendapatkan respon yang baik dari masyarakat Jepang.

4.      Dibuat Untuk Menyenangkan Diri Sendiri
Kuliner matcha biasanya memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan varian rasa lainnya. Matcha Latte di Jepang memiliki kisaran harga antara 560 – 780 yen per gelas. Sedangkan untuk Green Tea Cake 300 – 500 yen. Dan untuk Matcha Ice Cream 200 – 300 yen. Harga tersebut bergantung pada kualitas Matcha yang digunakan sebagai bahan campurannya.

B. Analisis Kuliner Matcha di Indonesia Menggunakan Konsep Williams
1.      Disukai Banyak Orang
Munculnya menu-menu dengan rasa matcha saat ini, dikarenakan antusiasme para konsumen pada rasa matcha. Para pengusaha kuliner menargetkan penjualan produk dengan varian rasa Matcha pada pembeli usia 15 – 30 tahun. Berbeda dengan di Jepang, penyuka rasa matcha di Indonesia berasal dari kalangan muda karena pengaruh dari televisi dan internet. Dan, saat ini penyebaran kuliner matcha masih terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.

2.      Jenis Kerja Rendahan (Mudah Ditemukan)
Dimulai dari stick biscuit rasa green tea dari Pocky, permen green tea dari UHA, Green Tea Latte dari Allure dan juga Nu Green Tea, dan baru-baru ini di Indomaret dan Alfamart juga sudah tersedia Kit-Kat green tea  yang sudah berlabel halal, masyarakat Indonesia tidak perlu lagi harus ke minimarket barang impor untuk membeli produk rasa matcha.

Selain produk-produk kemasan seperti di atas, dapat ditemukan juga pedagang kue cubit green tea dan martabak green tea di pinggir jalan. Salah satu produsen keripik tempe dengan merk dagang ‘Buluk Lupa’ membuat inovasi rasa tempe green tea. Dan di Bandung ada sebuah restoran yang memiliki menu mie goreng green tea dan mie ayam green tea. Hal ini menunjukkan kemudahan bagi masyarakat Indonesia memperoleh kuliner matcha.

3.      Dibuat Untuk Menyenangkan Orang Lain
Selain karena rasanya yang unik, alasan banyak orang Indonesia menyukai kuliner matcha adalah karena semua yang serba green tea, umumnya menarik untuk  generasi sosial media dan Instagram. Ada kebanggaan tersendiri bagi mereka yang dapat mengunggah foto, blog kuliner atau status di Facebook dengan makanan-makanan dengan matcha. Karena itu para pengusaha kuliner berlomba-lomba menciptakan tampilan yang menarik untuk kuliner matcha.

4.      Dibuat Untuk Menyenangkan Diri Sendiri
Baik di Jepang maupun Indonesia, biasanya makanan yang mengandung unsur matcha memiliki harga yang sedikit lebih mahal dengan makanan dengan rasa yang biasa. Hal ini dikarenakan pedagang merasa produk mereka memiliki nilai tambah dengan keunikan dari rasa matcha itu sendiri. Sebagai contoh, kue cubit dengan rasa original satu loyang dipatok haga Rp 8000, sedangkan kue cubit green tea satu loyang berharga Rp 12000. Namun harga tersebut tidak menjadi masalah bagi para pembeli dan kuliner matcha di Indonesia tidak berkurang di Indonesia justru semakin bertambah.

C.     Analisis Kuliner Matcha di Jepang Menggunakan Soft Power
Dalam tulisan ini penulis menggunakan konsep soft power untuk menganalisis kuliner matcha di Jepang. Produsen kuliner rasa matcha di Jepang sebagai pemberi pesan, Penikmat kuliner rasa matcha di Jepang sebagai penerima pesan.  Lalu isi Pesannya adalah meskipun matcha adalah rasa tradisional Jepang, namun tidak ketinggalan zaman. Pesan tersebut disampaikan dengan cara menghilangkan imej kuno dari matcha dan memperbanyak varian menu dengan matcha. Sebagai contoh, tidak hanya pada mocha namun matcha juga digunakan pada cheese cake yang dijual di kafe, sehingga kaum muda pun mulai menyukai kuliner matcha juga.

D.    Analisis Kuliner Matcha di Indonesia Menggunakan Soft Power
Sedangkan di Indonesia pemberi pesan adalah produsen kuliner rasa matcha di Indonesia dan penerima pesan  adalah penikmat kuliner rasa matcha di Indonesia. Isi pesan yang disampaikan adalah makanan dengan rasa matcha selain menyehatkan, juga membuatmu terlihat keren dan tidak ketinggalan zaman karena matcha adalah icon Jepang. Cara Penyampaian dengan membuat tampilan menu dengan matcha semenarik mungkin dan memperbanyak iklan di sosial media. Contohnya adalah varian menu baru Mc Donald di Indonesia ‘Cita Rasa Spesial dari Negeri Jepang’ yang diantaranya terdiri dari Matcha Oreo Mc Flurry dan Beef Teriyaki Burger.
PENUTUP
Dari hasil analisis di atas dapat dilihat bahwa kuliner matcha di Jepang sudah menjadi budaya populer dan kuliner matcha di Indonesia sedang mulai menjadi budaya populer. Persamaan yang dapat dilihat di Jepang dan Indonesia adalah produsen kuliner dengan rasa matcha di Jepang dan Indonesia, sama-sama menjual nilai kekinian dari produk dengan rasa matcha karena memiliki tampilan yang menarik untuk dilihat. Dan harga kuliner matcha lebih mahal dibandingkan dengan varian rasa lainnya.
Sedangkan untuk perbedaan di Jepang dan Indonesia, di Jepang umumnya varian matcha digunakan pada makanan ringan dan manis, sedangkan para pengusaha kuliner di Indonesia berinovasi matcha pada makanan asin dan berat seperti tempe, mie ayam dan nasi goreng. Lalu usia penyuka matcha di Jepang kebanyakan adalah kaum manula dikarenakan matcha adalah rasa tradisional Jepang dan saat ini mulai dibuat produk matcha  yang lebih manis untuk ditargetkan pada kaum muda dan turis asing yangberkunjung ke Jepang. Sedangkan di Indonesia penikmat kuliner matcha adalah kaum muda yang aktif bermain sosial media dan internet. Kuliner matcha di Indonesia terasa lebih ringan dibandingkan di Jepang karena di Indonesia kebanyakan memakai perisa dan bukan bubuk asli matcha.

Daerah penghasil matcha yang terkenal di Jepang adalah Uji, Kyoto. Di Indonesia pun kabarnya matcha sudah diproduksi di daerah Bandung dan Malang.

DAFTAR PUSTAKA
Williams, Raymond, (1983) Keyword, London: Fontana.
Schilling Mark, (1997) Encyclopedia of Japanese Pop Culture, Newyork: Weatherkill
www.rankingshare.jp
https://news.nifty.com/article/item/neta/12225-130724002616/
https://gakumado.mynavi.jp/freshers/articles/12391
www.breakawaymatcha.com/story-of-matcha/
en.rocketnews24.com/2016/06/28/matcha-ice-cream-used-to-encourage-young-people-to-vote-in-upcoming-japanese-election/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar