Maret 16, 2017

Menyelami Dampak Sistem Pendidikan dalam Novel Totto-chan



MENYELAMI DAMPAK SISTEM PENDIDIKAN
DALAM NOVEL TOTTO-CHAN : GADIS CILIK
DI JENDELA

Nurul Fatima

ABSTRAK
Tulisan ini merupakan hasil penelitian terhadap novel “Madogiwa No Tottochan”, karya Tetsuko Kuroyanagi. Dalam penelitian ini, masalah yang diangkat adalah masalah sistem pendidikan yang didapatkan tokoh Totto-chan, dan dampak sistem pendidikan tersebut bagi sikap perilaku Totto-chan.

Pada penelitian ini, ditemukan bahwa sikap tokoh Totto-chan sebelum memasuki Tomoe Gakuen adalah hiperaktif dan imajinatif. Namun, setelah memasuki Tomoe Gakuen tokoh Totto-chan memiliki sikap keingintahuan yang tinggi, cerdas, semangat yang tinggi dan pantang menyerah. Dampak dari sikap tersebut ia dapatkan karena sistem pendidikan di Tomoe Gakuen.

Pembaca akan diajak untuk menyelami dan menemukan hal-hal yang unik dan menarik mengenai pendidikan yang didapatkan oleh Totto-chan. Cerita dalam novel ini berlatar waktu pada masa sebelum Perang Dunia II pecah di negara Jepang sampai dengan terjadinya pemboman dua kota besar di Jepang yakni Hiroshima dan Nagasaki. Tomoe Gakuen adalah nama sekolah dasar tempat dimana Totto-chan bersekolah. Tomoe Gakuen didirikan pada tahun 1937 dan sangat disayangkan habis terbakar pada tahun 1945 karena mendapat serangan udara dari pasukan sekutu. Namun, meskipun usia sekolah tersebut sangat singkat, semua orang akan mengetahui bagaimana hebat dan menariknya sistem pendidikan dan metode-metode pengajaran di sekolah tersebut berkat karya sastra novel ini.

Keyword: sistem pendidikan, tokoh Totto-chan, Tomoe Gakuen, dampak sistem pendidikan


I.                   PENDAHULUAN
Karya sastra adalah komunikasi seni yang hidup di masyarakat dan bermediumkan bahasa. Tanpa bahasa, sastra tidak dapat berkembang secara maksimal. Bahasa dalam karya sastra harus mampu menyentuh nuansa- nuansa makna dan mempunyai daya imajinatif. Pengarang dengan daya kreasi dan imajinasinya berusaha menyampaikan masalah-masalah kehidupan manusia yang ada di alam sekitarnya. Melalui ketajaman perasaanya pengarang mengungkapkan nilai-nilai yang terdapat di balik peristiwa untuk dituangkan ke dalam karya sastra. Selain itu, pengarang melalui karya-karyanya selalu mengajak pembaca tidak hanya menangkap yang tersurat, tetapi juga segala sesuatu yang tersirat dalam karya sastra.

Karya sastra banyak menampilkan problem-problem kehidupan manusia yang ditulis melalui cara pandang pengarang terhadap masalah yang akan diangkatnya dalam bentuk cerita fiksi. Orang dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra dengan memanfaatkan pertolongan pengetahuan psikologi. Sastra dan psikologi adalah dua ilmu yang saling berkaitan. Membicarakan hubungan keduanya sangat menarik. Masing-masing dari dua disiplin ilmu tersebut saling berinteraksi. Wellek dan Warren ( 1962: 81 ) membedakan analisis psikologis menjadi dua macam yaitu studi psikologi yang semata-mata berkaitan dengan pengarang. Sedangkan studi yang kedua berhubungan dengan inspirasi, ilham, dan kekuatan-kekuatan supranatural lainnya. Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang kedua, yaitu pembicaraan dalam kaitannya dengan unsure kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung didalam karya sastra. Pada umumnya aspek- aspek kemanusiaan yang merupakan objek utama didalam psikologi sastra, sebab semata-mata dalam diri manusia itulah, sebagai tokoh-tokoh , aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan.

Sebagai bangsa literal dengan minat baca yang tinggi dan memiliki ciri ‘kehausan yang tidak pernah puas akan pengetahuan’, wajar jika bangsa Jepang menjadi maju dalam bidang pendidikan. Salah satu contoh penerapan pendidikan di Jepang adalah sistem pendidikan di Tomoe Gakuen dalam 窓ぎわのトットちゃん(Madogiwa no Totto-chan)”. Novel yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan judul “Totto-chan : Gadis Kecil di Jendela” ini merupakan autobiografi yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi.

Novel Madogiwa No Totto-chan adalah novel yang menceritakan tentang seorang gadis cilik yang biasa dipanggil dengan panggilan sayang "Totto-chan" oleh orang sekitarnya. Ia adalah seorang gadis cilik yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dibandingkan dengan murid lainnya. Tingginya rasa keingintahuan Totto-chan tersebut membuat guru di sekolahnya menganggapnya nakal. Oleh karena kelakuannya yang setiap hari sangat aneh dan membingungkan para guru, ia dikeluarkan dari sekolah lamanya.  

Akhirnya, Totto-chan dimasukkan oleh Mamanya ke sekolah Tomoe Gakuen. Sekolah dengan arsitektur yang berbeda dibandingkan dengan sekolah pada umumnya. Tempat belajarnya berupa gerbong kereta api yang ada di taman. Gadis itu pun sangat menikmati sekolah gerbong itu. Di sekolahnya yang baru inilah, dia mendapatkan sesuatu hal yang sangat berarti bagi pengembangan potensi dirinya.

Sistem pengajaran Tomoe sangat berbeda dari sekolah lainnya yaitu sistem belajar kelompok dan jadwal pelajaran yang sesuka hati murid. Selanjutnya, ada pelajaran tes keberanian di malam hari, berkemah di sekolah, liburan bersama ke pemandian air panas, berenang telanjang bulat, pertandingan olahraga dan masih banyak pelajaran lainnya yang bisa mengembangkan potensi mereka.

Totto-chan selalu merasa ingin tahu terhadap segala hal yang dia temui. Di Tomoe Gakuen, Totto-chan hanya menempuh pendidikan sekolah dasarnya hingga kelas empat. Sekolah itu terpaksa harus dihentikan karena sedang terjadi perang dunia kedua dimana beberapa kota di Jepang di bom oleh sekutu seperti Hiroshima dan Nagasaki. Banyak bom yang dijatuhkan oleh pesawat pembom B29, dan diantaranya menimpa gerbong-gerbong kereta api yang selama ini menjadi ruang kelas Tomoe Gakuen, menyebabkan sekolah tersebut terbakar habis.

Perang dunia kedua telah banyak mengubah Jepang, terutama dalam hal pemikiran. Jepang mengadakan pergerakan baru sehingga mereka dapat bangkit kembali dari kehancuran mereka, sistem belajar dan pengajaran di sekolah gerbong tersebut banyak menjadi panutan bagi sekolah-sekolah di Jepang.

Pengarang novel ini adalah Tetsuko Kuroyanangi. Dia lahir di Tokyo tanggal 9 Agustus 1933. Ia dikenal sebagai seorang aktris, penulis buku anak-anak yang aktif dengan aksi kemanusiaannya. Ia juga terkenal sebagai presenter di sebuah Talk Show fenomenal di Jepang bertajuk Tetsuko 's Room yang membuatnya menerima penghargaan dari Donal Richie. Pada tahun 1981, beliau menerbitkan buku anak-anak pertama dan satu-satunya, Madogiwa No Totto-chan. Buku tersebut langsung menjadi fenomenal dan bestseller yang dipublikasikan di lebih dari 30 negara.

Novel Madogiwa No Totto-chan pantas diteliti, karena memuat persoalan perubahan sikap tokoh Totto-chan sebagai dampak dari pendidikan yang ia dapatkan. Berbagai pengalaman yang dia alami mengajarkannya untuk berubah menjadi anak dengan sikap yang lebih baik. Oleh karena itulah peneliti mengambil judul “Menyelami Dampak Sistem Pendidikan dalam Novel Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela.”

II.                Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik close reading, di mana pembacaan terhadap karya sastra dilakukan secara detil, dan menyeluruh sehingga dari hasil pembacaan tersebut dapat menghasilkan sebuah penelitian.


III.             PEMBAHASAN
3.1  Sekolah Tomoe Gakuen
Tomoe Gakuen (1937-1945) adalah sebuah sekolah dasar yang dibangun oleh Sosaku Kobayashi, sang Kepala Sekolah. Kobayashi-san sering melakukan perjalanan ke Eropa, lalu ilmu yang ia dapatkan dari perjalanan tersebut ia terapkan di Tomoe Gakuen. Nama Tomoe Gakuen diambil dari nama anak sulung Kobayashi-san. Tidak seperti sekolah biasa, ruangan kelas di Tomoe Gakuen terdiri dari gerbong-gerbong kereta yang sudah tidak tepakai dan dikelilingi lingkungan alam yang masih asri sehingga para murid tidak merasa sedang bersekolah tetapi seperti melakukan perjalanan rekreasi.

3.2  Metode-metode pengajaran yang terlihat dalam novel
Dalam penelitian ini penulis mengklasifikasi metode pengajaran ke dalam empat kategori:

1.      Individual Learning (Pembelajaran Individu)
“Di awal jam pelajaran pertama, Guru membuat daftar semua soal dan pertanyaan mengenai hal-hal yang akan diajarkan hari ini. Kemudian Guru berkata, “Sekarang mulailah dengan salah satu dari ini, pilih yang kalian suka!”—hal. 37

2.      Meaningful Learning (Pembelajaran Berarti)
“Dalam pelajaran musik di Aula, setiap anak diberi sebatang kapur tulis oleh Kepala Sekolah. Mereka boleh berbaring atau duduk dimana saja di lantaidan menunggu dengan kapur tulis di tangan. Ketika mereka semua sudah siap, Kepala Sekolah mulai memainkan pian. Sambil mendengarkan permainannya, anak-anak menuliskan irama lagu itu dalam notasi musik di lantai. Sungguh menyenangkan menulis dengan kapur tulis di lantai kayu yang berwarna cokelat muda mengkilat.” –hal. 215

3.      Indirectly Learning (Pembelajaran Secara Tidak Langsung)
“Kepala Sekolah datang lagi. “Kau sudah menemukan dompetmu?”tanyanya. “Belum”jawab Totto-chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berleleran dan pipinya memerah. Kepala Sekolah mendekat dan berkata ramah, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?” kemudian pria itu pergi lagi seperti sebelumnya.”—hal. 62

4.      Learning Anywhere (Pembelajaran Dimana Saja)
“Setelah kira-kira berjalan sepuluh menit, Guru berhenti. Dia menunjuk beberapa kuntum bunga berwarna kuning dan berkata, “Lihat bunga sesawi itu. Kalian tahu mengapa bunga-bunga mekar?”—hal. 50

3.3  Dampak sistem pendidikan Tomoe gakuen bagi Totto-chan
Pengaruh sistem pendidikan dengan pendekatan psikologi yang diterapkan oleh Sosaku Kobayashi di Tomoe Gakuen pada anak didiknya dan masing-masing kepribadian anak didiknya terutama pada kepribadian Totto-chan bisa dilihat dari kutipan berikut :

a.              Bebas Berekspresi
Hal ini ditampilkan pada halaman 215, 111 dan 100.

Murid-murid Tomoe tidak pernah mencoret-coret jalanan atau dinding rumah orang, karena mereka punya banyak kesempatan untuk melakukannya di sekolah. (Hal. 215)

Berkat Kepala Sekolah yang memberi kebebasan bagi murid-murid di Tomoe Gakuen untuk mencoret-coret lantai sekolah saat jam pelajaran musik, murid-murid tidak pernah mencoret-coret di tempat umum seperti murid sekolah lain. Kobayashi-san mengajarkan kebebasan yang bertanggung jawab pada anak muridnya.

Kepala Sekolah selalu meminta para orangtua agar menyuruh anak-anak mereka mengenakan pakaian paling usang untuk bersekolah di Tomoe. (hal. 111)

Totto-chan adalah anak hiperaktif yang suka mencari tahu hal baru di sekelilingnya, seperti menyusup ke bawah semak-semak, melompati pagar, dan melompat ke dalam lubang galian. Orang tua pasti akan memarahi anaknya bila anaknya pulang dalam keadaan baju yang kotor dan robek. Karena itu Kepala Sekolah menyuruh anak-anak untuk memakai pakaian mereka yang paling usang agar orang tua pun tidak merasa berat bila anak-anaknya pulang dalam keadaan baju kotor atau robek. Mama Totto-chan juga sangat menyetujui peraturan sekolah ini karena Totto-chan selalu pulang ke rumah dengan baju yang kotor dan robek.

Selain cara pengajaran yang berbeda dengan sekolah-sekolah biasa, sebagian besar jam pelajaran di Tomoe diisi dengan pelajaran musik. (hal. 100)

Anak-anak usia Sekolah Dasar berbeda dengan anak-anak tingkat sekolah yang lebih tinggi. Mereka cepat jenuh dan tidak suka belajar denga gaya yang monoton. Karena itulah Kobayashi-san menyeimbangkan jam pelajaran di sekolah dengan pelajaran musik agar para murid bebas berekspresi selama di sekolah.

Metode diatas digunakan untuk membuat anak-anak merasa senang serta metode mengajar tersebut membuat murid-murid merasa dihargai, dan diberi kebebasan memilih sehingga keberanian mengambil keputusan akan berkembang. Begitu pula yang dirasakan pada Totto-chan.

b. Memupuk Bibit Keberanian dalam Mengambil Tindakan
Hal ini ditampilkan pada halaman 121—122.

Pada suatu siang hari Kepala Sekolah berkata, “Kurasa kita semua harus belajar berbicara lebih baik. Bagaimana menurut kalian?” (hal. 121-122)


“Kalian tak perlu merasa harus jadi pembicara yang baik,” katanya. (hal. 122)

Pada bab 30 dengan judul bab “Lalu... Uh...”, Kepala Sekolah meminta semua murid Tomoe Gakuen untuk berpidato setiap selesai makan siang. Murid seperti Totto-chan yang sangat suka bercerita tentu sangat menyukai kesempatan ini. Namun beberapa murid yang tidak suka berbicara di depan umum merasa ini hal yang sulit untuk dilakukan. Kepala Sekolah melakukan kegiatan ini bertujuan agar memupuk keberanian para muridnya untuk tidak perlu takut saat berbicara di depan orang banyak.

Dalam hal ini kepala Sekolah berusaha menjaga agar bibit-bibit keberanian mengambil tindakan yang mulai tumbuh di dalam jiwa muridnya tidak mati. Agar kelak saat umurnya bertambah, si anak akan memiliki kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya. Sebuah tindakan yang dilandasi empati luar biasa terhadap perkembangan kepribadian seorang anak.

Selain itu pada bab 46 dengan judul “Kau Benar-Benar Anak baik” (hal. 187) dikatakan bahwa setiap kali Kepala sekolah bertemu dengan Totto-chan, ia akan mengusap kepalanya dan berkata “Totto-chan, kau benar-benar anak baik. Kau tahu itu kan?.” Tetsuko, sang pengarang, mengatakan hal tersebut sangat tertanam di dalam dirinya. Kebanyakan orang akan mengatakan Totto-chan adalah anak nakal bila sudah mendengar hal-hal yang telah ia lakukan selama di sekolah. Namun Kepala Sekolah justru mengatakan ia adalah anak baik setiap bertemu dengannya. Hal ini sangat penting agar seorang anak tidak merasa bahwa ia memang anak yang buruk dan akan memotivasi dirinya untuk terus melakukan kebaikan.

IV.             KESIMPULAN
Novel “Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela” ini merupakan autobiografi yang ditulis  oleh Tetsuko Kuroyanagi tentang masa kecilnya saat bersekolah di Tomoe Gakuen. Selama masa sekolahnya yang singkat disana, ia mendapatkan ilmu dan pengalaman yang berharga untuk kehidupannya di masa depan. Metode pembelajaran yang terdapat di dalam novel ini yaitu Individual Learning, Meaningful Learning, Indirectly Learning dan Learning Anywhere. Berkat metode-metode yang diterapkan oleh Sosaku Kobayashi, sang Kepala Sekolah, tak hanya Totto-chan, para pembaca novel ini pun, khususnya dari kalangan dunia pendidikan, dapat menerapkan sistem belajar yang sama. Sehingga, bisa mengubah sifat buruk seorang anak menjadi lebih baik.

V.                DAFTAR PUSTAKA

Kuroyanagi, Tetsuko. Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela. PT Gramedia Pustaka Utama (2007)
Kuroyanagi, Tetsuko. Totto-chan : The Little Girl at The Window. Trans by Dorothy Britton (1993)
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Totto-Chan:_Gadis_Cilik_di_Jendela
http://www.nytimes.com/1982/11/21/books/growing-up-japanese.html
https://oeniwahyuni.wordpress.com/2011/12/04/psikologi-sastra/